Dari Sebuah Komentar , Harapan Kembali Menyapa Dua Anak di Ladon - Alor

Dari Sebuah Komentar , Harapan Kembali Menyapa Dua Anak di Ladon - Alor

29 Agt 2026211 views
Ladon, Desa Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor.

Alor — Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah komentar singkat di TikTok akan membawa dukungan hingga ke sebuah keluarga di Ladon, Desa Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor.

Komentar itu muncul pada 24 Juli 2026 di salah satu postingan TikTok Komunitas Peduli Pendidikan NTT. Seorang pengguna dengan akun @Che Moldena menuliskan sebuah pesan sederhana.

“Ijin Kk, saya Nakes. Ada satu keluarga yang rumahnya terbakar, dan 2 anaknya tidak punya pakaian sekolah. Desa Dulolong, Dusun Ladon, Kk.”

Pesan tersebut kemudian kami tanggapi melalui pesan langsung. Komunikasi berlanjut melalui WhatsApp, hingga kami menerima foto, video, serta informasi mengenai kondisi keluarga dan kebutuhan sekolah kedua anak tersebut.

Keduanya adalah F.S.A, siswa kelas 6 SD, dan H.A, siswa kelas 4 SD.

Rumah keluarga tersebut sebelumnya terbakar. Dalam kondisi yang tidak mudah itu, kebutuhan sekolah kedua anak ikut menjadi persoalan yang harus dipikirkan.

Seragam, sepatu, buku tulis dan perlengkapan sekolah lainnya mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit setelah musibah, kebutuhan tersebut tentu memiliki arti yang berbeda.

Di balik informasi yang kemudian bergerak hingga menjadi bantuan, ada satu sosok yang menjadi awal dari cerita ini.

Ia adalah Susantje Moldena, tenaga kesehatan sekaligus Kepala Puskesmas Alor Kecil, Kabupaten Alor.

Melalui akun TikTok @Che Moldena, Susantje pertama kali menyampaikan kondisi keluarga tersebut kepada Komunitas Peduli Pendidikan NTT.

Sebagai seseorang yang berada dekat dengan masyarakat, Susantje melihat langsung persoalan yang sedang dihadapi keluarga tersebut. Ia kemudian memilih untuk menyampaikan informasi itu, tanpa mengetahui sejauh mana pesan sederhana tersebut akan bergerak.

Dari situlah komunikasi antara Susantje dan Komunitas Peduli Pendidikan NTT berlanjut.

Foto, video, serta kebutuhan kedua anak kemudian dikirimkan melalui komunikasi WhatsApp. Informasi yang awalnya hanya berupa sebuah komentar di media sosial perlahan berubah menjadi sebuah upaya nyata untuk membantu.

Pada 21 Agustus 2026, komunikasi kembali berlanjut. Susantje kemudian mengirimkan ukuran sepatu serta rincian perlengkapan sekolah yang dibutuhkan kedua anak tersebut

Sehari kemudian, 22 Agustus, Komunitas Peduli Pendidikan NTT meminta bantuan Hakim, salah seorang teman di Alor, untuk membantu membeli berbagai kebutuhan sekolah.

Mulai dari baju seragam, rok atau celana, sepatu, buku tulis, hingga perlengkapan sekolah lainnya dipersiapkan untuk kedua anak tersebut.

Namun, setelah kebutuhan terkumpul, masih ada satu tantangan: bagaimana bantuan itu bisa sampai ke Ladon.

Jalan yang rusak dan medan yang sulit dijangkau membuat perjalanan menuju lokasi tidak mudah.

Pada 29 Agustus 2026, bantuan akhirnya disalurkan melalui Nopeles Seka, salah satu staf Puskesmas Alor Kecil.

Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada titik yang paling dinantikan: bantuan berada di tangan keluarga.

Tidak ada sambutan yang berlebihan.

Orang tua kedua anak tersebut hanya mampu meneteskan air mata dan mengungkapkan rasa syukur.

Air mata itu mungkin menjadi cara paling sederhana untuk menggambarkan arti bantuan yang mereka terima.

Bagi sebagian orang, seragam sekolah, sepatu dan buku tulis mungkin hanyalah perlengkapan sehari-hari.

Tetapi bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit setelah rumah mereka terbakar, semua itu adalah bagian dari harapan agar anak-anak mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Dan semuanya berawal dari satu orang yang memilih untuk peduli.

Susantje Moldena mungkin hanya menuliskan satu komentar pada 24 Juli 2026.

Namun komentar itu kemudian menggerakkan banyak tangan.

Dari Susantje sebagai Kepala Puskesmas Alor Kecil yang pertama kali menyampaikan informasi, kepada Komunitas Peduli Pendidikan NTT yang menindaklanjutinya, kemudian Hakim yang membantu mempersiapkan kebutuhan, hingga Nopeles Seka yang membantu membawa bantuan melewati medan yang tidak mudah.

Tidak ada satu orang yang bekerja sendirian.

Ada kepedulian yang saling menyambung hingga akhirnya sampai kepada dua anak di Ladon.

Sebab terkadang, perubahan tidak dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia bisa dimulai dari seorang kepala puskesmas yang melihat ada keluarga yang membutuhkan, lalu memilih untuk tidak diam.

Dan dari satu komentar sederhana itu, harapan akhirnya menemukan jalannya.

Peduli Pendidikan NTT